Kesamaan Pemikiran Antara Islam Liberal dan Mu'tazilah

Sumber gambar: id.pinterest.com

Islam Liberal dan Mu'tazilah adalah dua aliran pemikiran yang memiliki beberapa kesamaan dalam pendekatan dan pemahaman terhadap Islam. Baik Islam Liberal maupun Muktazilah mengedepankan pemahaman yang rasional dan kontekstual. Namun dalam hal ini, mereka lebih mengunggulkan fikiran dalam memahami agama.

Pola pikir Islam Liberal maupun Muktazilah lebih didominasi dari filsafat barat yang sebenarnya tidak layak untuk digunakan sebagai dasar bagi keilmuan Islam. Sehingga pemahaman mereka selalu bertentangan dengan akidah Islam yang lurus berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.

Muktazilah adalah sebuah aliran teologis dalam sejarah pemikiran Islam yang berkembang pada abad ke-8 hingga ke-10. Mereka menganut paham rasionalisme dan menekankan pentingnya fikiran dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Muktazilah masih memakai literalisme Islam (Al-Qur'an dan Hadits) dalam menilai teks-teks agama. Hanya saja, mereka berupaya memaksakan literalisme untuk ikut pada fikiran yang mereka rumuskan.

Baca juga: Syekh Bahauddin Syah An Naqsyabandi, Inspirasi Hidup dari Pewaris Keilmuan Sufi

Sama halnya dengan Muktazilah, Islam Liberal juga menekankan pentingnya akal dalam memahami Islam. Penganut Islam Liberal berpendapat bahwa ajaran Islam harus diinterpretasikan secara rasional dan kontekstual, dengan memperhatikan perubahan zaman dan kondisi sosial. Mereka berupaya untuk menggali hikmah-hikmah universal dalam ajaran Islam yang relevan dan logis dengan realitas kontemporer dengan mengesampingkan literalisme Islam.

Selain itu, Muktazilah dan Islam Liberal juga memiliki kesamaan dalam menekankan pentingnya keadilan menurut pemahaman mereka. Muktazilah menganggap bahwa Tuhan adalah sumber keadilan dan bahwa tindakan manusia harus selaras dengan prinsip-prinsip keadilan tersebut. Kemudian mereka berusaha mendorong adanya keadilan sosial dan kesetaraan dalam masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip yang mengedepankan kedermawanan, keadilan, dan persaudaraan. Namun, keadilan dari Tuhan yang mereka maksud justru bertentangan dengan hukum Tuhan itu sendiri.

Meskipun terdapat kesamaan dalam pendekatan rasional dan kebebasan berpikir, perlu dicatat bahwa Muktazilah adalah aliran teologis yang berkembang pada periode sejarah tertentu, sementara Islam Liberal adalah fenomena kontemporer. Muktazilah mengembangkan sistem teologis yang kompleks, sedangkan Islam Liberal merupakan aliran pemikiran yang lebih bervariasi dan tidak memiliki kesatuan pemahaman yang konsisten.

Selain itu, Islam Liberal juga mencakup lebih dari sekadar aspek teologis, melibatkan diskusi tentang isu-isu sosial, politik, dan gender dalam konteks Islam. Gerakan Islam Liberal menyerukan untuk mereformasi berbagai aspek kehidupan berdasarkan nilai-nilai Islam yang inklusif menurut penafsiran mereka sendiri, demokratis, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bahkan mereka berani untuk menentang dan mengubah literalisme Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits yang mereka anggap tidak relevan.

Secara keseluruhan, Islam Liberal dan Muktazilah memiliki kesamaan dalam penekanan pada pemahaman yang rasional, kontekstual, dan mengedepankan kebebasan berpikir serta keadilan. Terkadang, keduanya juga menolak pemahaman literalis (Al-Qur'an dan Hadits) yang sudah paten dalam interpretasi teks agama dan mengakui pentingnya akal dalam memahami ajaran Islam. Meskipun Muktazilah adalah aliran teologis dalam sejarah Islam, sementara Islam Liberal adalah fenomena kontemporer, keduanya berbagi semangat untuk mereformasi pemahaman dan praktik Islam agar sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman dengan menomor duakan pemahaman literalis (Al-Quran dan Hadist).

Salah satu kesamaan penting antara Islam Liberal dan Muktazilah adalah penekanan pada kebebasan berpikir dan kebebasan beragama. Muktazilah berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menggunakan akalnya dalam mencari kebenaran dan memiliki kebebasan memilih keyakinan agamanya. Islam Liberal juga memperjuangkan kebebasan berpikir dan kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia yang fundamental. Keduanya menolak pemaksaan keyakinan agama dan mengakui hak individu untuk memilih dan menjalankan agamanya secara bebas. Pada kenyataannya, sudah wajar pluralisme agama terjadi dalam pemahaman mereka dan cara mereka beragama dengan dalih toleransi yang berlebihan.

Selain itu, kedua aliran ini juga menekankan pentingnya keadilan. Muktazilah menganggap bahwa Tuhan adalah sumber keadilan dan bahwa tindakan manusia harus selaras dengan prinsip-prinsip keadilan tersebut. Islam Liberal juga mendorong adanya keadilan sosial dan kesetaraan dalam masyarakat, dengan memperjuangkan hak-hak individu dan kelompok yang rentan, serta menolak segala bentuk diskriminasi dan penindasan. Maka dari itu, mereka berusaha berjuang atas nama Islam dengan dalih yang salah menurut pemahaman literalisme Islam dan prinsip pemahaman yang justru bertentangan dengan keadilan Tuhan.

Namun, perlu diingat bahwa Muktazilah adalah aliran teologis yang memiliki sistem teologis yang kompleks dan terikat pada konteks sejarah dan budaya tertentu. Sementara Islam Liberal adalah fenomena yang lebih bervariasi dan terdiri dari berbagai interpretasi dan pendekatan yang berbeda. Islam Liberal juga melibatkan isu-isu sosial, politik, dan gender dalam konteks kontemporer.

Meskipun Islam Liberal memiliki kesamaan dengan Mu'tazilah, mereka juga memiliki padangan yang berbeda. Islam liberal memandang bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menggunakan fikirannya dalam mencari kebenaran dan memiliki kebebasan memilih keyakinan agamanya. Mereka melegalkan pluralisme dalam agama. Serta, mereka juga memperjuangkan kebebasan berpikir dan kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia yang tidak dapat dibatasi oleh pihak lain, termasuk negara.

Terlepas dari perbedaan dan keberagaman dalam pemahaman dan pendekatan, baik Islam Liberal maupun Muktazilah turut masuk dalam lingkup Islam merumuskan perspektif yang lebih inklusif, rasional, dan kontekstual dalam pemahaman dan praktik Islam dengan pemikiran mereka sendiri. Keduanya menawarkan pemikiran alternatif yang berupaya mengatasi tantangan dan perubahan zaman serta mencari keselarasan antara ajaran Islam dan nilai-nilai universal yang mendasari kebebasan, keadilan, dan martabat kemanusiaan. Maka bagi pemerhati Islam, perlu berhati-hati dengan rumusan yang mereka buat. Serta dirasa penting, untuk mengenal mereka lebih dalam baik pemikiran dan tokoh-tokoh mereka dengan tujuan untuk mengantisipasi dampak buruk mereka dalam pemahaman Islam.

Wallahu a'lam

1 komentar untuk "Kesamaan Pemikiran Antara Islam Liberal dan Mu'tazilah"

Silahkan masukkan komentar Anda di sini.